Bereksperimen Sederhana Membuat Biogas.


Oleh: FNU Abdillah

 

Saudara sekalian, biogas adalah gas yang diperoleh dari sampah tanaman, kotoran hewan, dan lain sebagainya yang dapat membusuk. Biogas dapat kita manfaatkan untuk energi. Antara lain untuk memasak.

Ada cara mudah dan sederhana bagi yang ingin mengetahui tentang biogas dan pemanfaatannya. Alat yang dibutuhkan pun ada disekitar kita. Dalam kesempatan ini, saya mencoba menjelaskan secara sederhana mungkin bagaimana cara membuat biogas dengan alat dan bahan disekeliling kita.

Alat/Bahan yang dibutuhkan:

1. Galon air mineral

2. Pisau untuk melubangi tutup galon

3. Pipa logam kecil denga diameter kira-kira 1 cm

4. Selang plastik aquarium dengan diameter 1 cm

5. Air.

6. Eceng gondong atau sisa sayuran mentah dari dapur.

Cara membuatnya:

1.  Masukkan eceng gondok atau sisa sayuran sampai 1/2 galon.

2. Isilah galon tersebut dengan air secukupnya lalu tutup yang rapat (jangan sampai ada lubang sedikit pun).

3. Simpan selama 7 hari

4. Siapkan pipa logam dengan diameter 1 cm sepanjang 10 cm dan 20 cm (2 buah)

5. Siapkan selang plastik aquarium dengan diameter 1 cm, sepanjang 1 meter.

6. Lubangi tutup galon air mineral sedikit saja (Jangan dibuka tutupnya agar gas tidak hilang/habis menguap).

7. Lalu tusukkan pipa logam pada tutup tersebut.

8. Kemudian sambungkan selang palstik ke pipa logam pada tutup galon tersebut.

9. Di ujung selang satunya, sambungkan pipa loga 20 cm.

10. Sulutlah dengan korek api.

Jika pembusukannya baik, maka pasti akan menyala.

Pemanfaatan:

Dalam kapasitas yang lebih besar, misalnya menggunakan drum bekas minyak, dapat digunakan untuk bahan bakar kompor gas dengan biogas ini.

Mudah ?,

Catatan: Bila belum berhasil, mungkin terdapat kekurangan bakteri pada sisa sayurannya. Untuk itu dapat ditambah bakteri methanogen yang produknya berupa gas methana (CH4). Tetapi biasanya tanpa ditambah bakteri itu tetap dapat memproduksi biogas.

Selamat Bereksperimen.

Peringatan: Bagi adik-adik yang ingin mencoba eksperimen di atas, mohon meminta bimbingan kakak, orang tua, atau guru sekolah. Jangan sampai niat bereksperimen justru membahayakan diri dan lingkungan.

About these ads

43 Komentar

Filed under Energi Bio Gas

43 responses to “Bereksperimen Sederhana Membuat Biogas.

  1. beng2

    wawww ini baru pas dengan yang saya butuhkan ………..
    luar biasa saya akan coba bersama murid-murid saya ………
    terima kasih……. smoga bermanfaat

  2. amrodin

    thanks, artikel ini sangat bermafaat buat saya. dengan alat yang dan bahan yang mudah kita dapatkan, tentu kita dapat membuatnya. ….

  3. kesling

    artikel ini yg saya cari, semoga ajjah berhasil…makasih kak, sudah bantu saya…

  4. k handy PETIR

    thanks ndan,,,pas bngt neh buat kelompok ku yg lg KKN mw mncoba alat ni,mdah2an bermannfaat buat masyarakat,,,,

  5. havivi

    ini yang guw cari …
    thanks ya broooo…

  6. ehm baiklh akan q cba smoga berhasil amiennn

  7. Master

    Hemmm … Setahu saya hanya methanogen dari genus Methanosarcina mampu bertahan terpapar O2 alias oksigen bebas selama 2 – 3 hari, karena enzim khusus menyelimuti selnya akan bersenyawa dengan paparan O2 menjadi air. Selain itu bahan organik untuk methanogenesis beragam yaitu H2 + CO2, asam asetat, methanol, methilamine, dimethilamine, dan trimethilamine. Sehingga sering dijumpai di banyak tempat yang kaya bahan organik tapi minimal kondisinya sering anaerob. Tahap hidrolisis menghasilkan H2 melebihi CO2. Tahap acidogenesis (tidak termasuk acetogenesis) menghasilkan CO2 melebihi H2. Tahap acetogenesis jarang menghasilkan H2. Setiap tahap termasuk methanogenesis berpeluang menghasilkan sejumlah sangat sedikit H2S, etena, dan NH3. H2, H2S, dan NH3 merupakan gas dapat dibakar. Mungkin dari galon Anda gas-gas itu yang keluar, karena ketiadaan starter alias bibit methanogen. Pemeriksaan pH akan memverifikasi. Cara lain yaitu kalau sudah tidak menghasilkan gas dapat dibakar, endus aroma slurry, kalau beraroma pupuk kandang matang dari kotoran sapi maka berhasil. Sebaliknya maka gagal, gas yang terbakar tadi bukan CH4. Adanya banyak buih alias busa di permukaan air menunjukkan keberadaan methanogen.

  8. nice info, saya mau mecoba ,smoga berasil ..

  9. luar biasa nee….
    makasih yaa kak….

  10. Master

    Dari jurnal penelitian berbahasa Inggris menuliskan sampel bibit Methanogen selain kotoran hewan: {1} Lumpur dalam dari dasar laut, danau, kolam di USA, Perancis, Inggris, Italia. {2} Lumpur dalam dari dasar muara sungai di Cina, Taiwan. {3} Lumpur dalam dari sawah di India, Cina, Jepang, Filipina (oleh peneliti USA). {4} Lumpur dalam dari saluran drainase alias saluran got di USA, Inggris. {5} Tanah subur dalam di Jerman. {6} Slurry dari reaktor alias digester anaerob pengolah limbah di USA, Jerman, Perancis, Inggris, Jepang, Nigeria, Thailand, Malaysia. Dalam jurnal itu di bagian “Method” alias metode alias cara dituliskan penambahan senyawa kimia buatan kedalam media biakan untuk hasil sebagusnya. Senyawa kimia itu ada dalam pupuk cair kimia lengkap komersil untuk tanaman, kecuali Ni, W, V, Cr, Se, Ti, harus kita usahakan sendiri. Menimbang situasi lokasi saya maka dipilih tanah subur sebagaimana penelitian di Jerman. Sekitar November 2008, di pekarangan rumah yang berhumus, dibuat lubang (satuan cm) 80 x 60 x 60. Dimasukkan 50 cc pupuk cair “Seprint” warna hijau, sebuah baterai (dikeluarkan isinya) NiMH “Sanyo” 2 Ah (mengincar Ni yang sudah pasti ada, sedangkan M mungkin Al atau Co, atau Ti, atau Mn, atau lain-lain), Li-on alias baterai ponsel “Nokia” 700 mAh (mengincar Co), baterai kering AA sekali pakai 1,5 V “ABC” jenis super heavy duty (mengincar Zn dan Mn), kawat elemen pemanas dari 2 bola lampu pijar 5 W dan 2 bola lampu CFL alias Compact Fluorescence Lamp 20 W yang sudah rusak (mengincar W), selembar pisau cukur “Gillette” (mengincar Ti), 2 piring abu bakaran, makanan basi, air seni sendiri (mengincar urea & P & senyawa organik, selama tidak mengonsumsi antibiotik), makanan sisa, darah dan isi perut & potongan sisa berbagai jenis ikan dan ayam, minyak jelantah, potongan sayuran, ampas kelapa, dll, tapi tanpa sabun & tanpa deterjen & tanpa plastik. Lubang itu dijaga tergenang dengan memasukkan air. Sampah-sampah yang disebutkan di atas tetap rutin dimasukkan selama 14 hari. Pada hari ke-14, bolak-balik lumpur dan aduk untuk hari itu saja, & pemasukan sampah dihentikan untuk seterusnya. Pada hari ke-28 tancapkan pipa paralon berdiameter 3/4 inch kedalam lubang itu hingga kedalaman minimal 30 cm dari dasar lumpur. Cabut pipa lalu jolok-jolok untuk mengeluarkan isinya, maka akan keluar lumpur padat berbentuk sosis. Ulangi penancapan pipa dan pengeluaran isi sampai minimal 3 kali untuk setiap botol. Segera setelah mengeluarkan padatan lumpur, dengan tangkas masukkan padatan lumpur itu (usahakan tidak hancur) kedalam botol (meminimalkan kontak dengan O2) bekas “Coca Cola” ukuran 2 l, tambahkan 0,5 sendok makan ampas kelapa atau 20 ml susu cair full cream “Ultra Jaya”, isi dengan air “Aqua” hingga memenuhi 80% kapasitas botol, lalu tutup rapat botol. Buat sebanyak 3 botol. Gosok dinding luar botol dan tutup botol termasuk celah-celahnya dengan deterjen. Bilas bersih & lap hingga kering. Kedalam lemari kecil, masukkan selembar kaca (boleh memakai bahan lain tapi menghantarkan panas & mampu menahan tekanan dari beban) bening tebal (satuan cm) 30 x 50 yang diberi penopang stabil di kedua sisi panjang kaca sedemikian rupa sehingga soket jenis duduk bersama lampu pijar 5 W “Philips” (sebagai penghangat) yang ditutup kaleng bekas susu kental manis full cream “Frisian Flag” (untuk menghalangi cahaya, usahakan kaleng tidak bersentuhan langsung dengan kabel) dapat masuk di bawah tengah kaca. Tepat ditengah kaca dimana lampu pijar berada di bawah kaca, buat alas dari tumpukan kertas direkatkan atau bahan lain yang sukar menghantar panas (satuan cm) 10 x 25 x 1 (karena di sini akan panas sehingga harus dihambat). Jungkir balikkan beberapa kali secara perlahan (harus perlahan alias lembut untuk meminimalkan mikroba terluka & mati akibat benturan dengan sesama mikroba & benda lain) botol, lalu susun rapat botol dengan posisi tidur (untuk memperluas permukaan kontak mikroba dengan bahan biogas) alias horizontal di atas kaca. Stabilkan botol dengan menyisipkan karet penghapus di celah pertemuan dinding botol dengan kaca. Tempatkan secara horizontal sebuah termometer analog di atas celah pertemuan antar botol. Bongkar lepaskan bagian pengunci lemari sebagai tempat keluar kabel, sumpal celah yang ada dengan remasan kantong plastik. Tutup rapat lemari. Sekali sehari selama 7 hari pantau suhu jangan sampai melebihi 40 C dengan mematikan lampu pijar. Rentang suhu untuk methanogenesis yang maksimal adalah 35 C – 38 C. Pada hari ke-7 keluarkan botol, beberapa kali jungkir balik perlahan sambil mengamati gelembung. Kalau banyak gelembung berukuran kurang dari 2 mm maka pertanda banyak methanogen. Berdirikan botol setelah menyapu padatan di sekitar mulut bagian dalam botol dengan ayunan air botol sendiri. Siapkan pembakar dari sebuah pipa Al bekas antena UHF bagian elemen pemantul sepanjang 15 cm, sebuah suntik kapasitas 5 ml tanpa jarum & tanpa tuas penyedot, sebuah balon karet berbentuk bola lampu pijar, sepotong kawat kasa Al (menyaring padatan & sebagai penahan api supaya api tidak masuk kedalam botol), lem pipa PVC, & tali plastik. Potong bersih & mulus (harus mulus supaya tidak melubangi balon) kedua sayap di pangkal suntik, sambungkan dengan lem tebal tapi secara berlapis pipa Al ke ujung keluaran suntik. Tunggu sampai lem kering. Gulung rapat kawat kasa sedemikian rupa sehingga bagian dalam suntik dipenuhi gulungan kawat kasa. Gunting bagian paling atas balon untuk membuat lubang berdiameter 0,5 kali diameter pangkal suntik, lalu masukkan sepanjang 1 cm pangkal suntik kedalam lubang itu, lalu ikat rapat dengan tali plastik. Regangkan mulut balon dengan kedua jari telunjuk dan kedua jari tengah, lalu surukkan menyelimuti mulut botol (seperti memasang kondom dalam video porno) sampai melewati cincin bening yang melekat di leher botol. Ikat rapat leher balon di bawah cincin itu dengan tali plastik. Pegang kuat leher botol dengan tangan kiri, remas kuat tutup botol dengan jari jempol, telunjuk, & tengah tangan kanan. Buka secara perlahan tutup botol sampai terdengar suara desis, segera dengan tangkas pegang suntik dengan tangan kiri dan sulut api di ujung keluaran pipa Al dengan tangan kanan. Di ruangan tertutup, lidah api dari pangkal lidah ke tengah lidah sekitar 3/4 bagian berwarna biru, dan sisanya dari tengah ke ujung berwarna kuning sedikit merah. Waspadai buih yang naik (karena tekanan botol turun sehingga banyak CO2 terlarut dan gas terlarut lainnya yang menguap), segera tutup rapat botol ketika buih mencapai leher botol, supaya tidak meluap tumpah keluar botol. Ayun berputar perlahan botol untuk memecah buih, lalu buka kembali tutup botol tapi tidak sampai lepas dari mulut botol. Biarkan selama 5 menit untuk mengeluarkan banyak CO2 terlarut. Pencet dinding botol dengan tangan kiri sampai air mencapai cincin leher botol sambil bersamaan dengan menyulut api menggunakan tangan kanan di sekitar tutup botol. Sering muncul semburan api yang sekaligus menyeterilkan sekitar tutup botol. Tahan pencetan, lepaskan penyulut api, lalu tutup rapat botol dengan tangan kanan. Jungkir balik botol perlahan lalu simpan kembali. Kalau botol butuh waktu lebih dari biasanya untuk mengeras (pencet dinding botol) seperti kalau terisi Cola yang belum dibuka, maka itulah waktunya memasukkan bahan biogas. Dosis boleh ditambah, silahkan mengukur sendiri dengan melihat api, mengendus aroma, mengamati buih dan gelembung. Kalau di saya, dosis ampas kelapa lebih dari 5 sendok makan penuh per botol akan menggagalkan digester. Belakangan kemudian saya menangkap 10 ekor rayap kayu dewasa kasta pekerja untuk setiap botol, lalu memasukkan kedalam botol itu. Menurut penelitian di USA, dalam usus rayap itu ada protozoa fakultatif penghidrolisis selulosa, bakteri acetogen yang hidrogenotrophic, Methanobrevibacter cuticularis (methanogenesis dari H2 + CO2), Methanobrevibacter filamentous (H2 + CO2), & Methanobrevibacter filiformis (H2 + CO2, asam format), dll. … dst.

  11. Salam hormat, saya dari daerah di pedalaman papua, kami akan mencoba eksperimen ini.. banyak potensi maupun masalah…sungguh ini merupakan proses pembelajaran buat kmi dalam memajukan daerah menuju pada kemandirian,, saya mengharapkan jika ada ilmu yg bisa di bagi mohon di share ke email saya.. Kiranya Tuhan senantiasa membalas niat baik sodara2 semua dalam membantu semua masyarakat, ohya banyak hal yg ingin sy tanyakan apa bisa minta no.hp. Sekian wassalam…
    Mitra papua

    • Waduh nomor HP saya ada di LN tepatnya di US. Saya senang sekali ada rekan dari Papua berkunjung ke blog saya. Seperti juga Anda saya melihat sungguh banyak peotensi papua non hasil bumi yang bisa dikembangkan oleh anak negeri papua. Gimana kalau kita sering kontak melalui email saja?. Email saya di mat_dillon@yahoo.com.

  12. Master

    @abdillah. Amin, seperti Mas Abdillah tulis, “Pemanfaatan skala besar”. Ini sebagai purwarupa alias prototype dari yang besar untuk meminimalkan kerugian seandainya upaya peningkatan alias improvement banyak hal ternyata gagal.
    @mitra. Biogas berpotensi untuk memasak, pembangkit listrik, menjalankan mesin, membuat methanol, bahan fuel cell alias sel bahan bakar, mengurangi limbah, mengurangi laju pemanasan global, dll. Slurry-nya menyuburkan tanaman, pembenah tanah, pakan ikan, dll. Masalah? Kalau tujuan adalah asal dihasilkan biogas maka masalah ada pada saat pertama kali operasi, selanjutnya senang-senang saja. Tapi kalau juga peningkatan dalam efisiensi, efektivitas, dan keselamatan di banyak hal dengan mempertimbangkan banyak hal (yang begini adalah tipe orang konservatif alias hati-hati sebagaimana saya) maka banyak masalah, sehingga memusingkan pikiran. Supaya saling menguntungkan maka sebagusnya dibahas di forum begini, supaya siapa saja boleh melihat dan berpendapat.

    • Orang biasanya ogah bereksperimen kalau biayanya besar. Padahal manfaat dibalik biaya akan banyak sekali. Oleh karenanya, saya mengajak adik-adik pelajar dan juga masyarakat umum untuk bereksperimen mulai dari hal yang sederhana. Kemudia dikembangkan untuk hal yang lebih besar. Itu tujuan saya.

      Saya senang sekali kalau Pak Sitorus mau share pengetahuan. Indonesia kaya loh akan sumber energi non fosil. Hanya saja, mau tidak bangsa kita memanfaatkannya?. Jangan harap bantuan pemerintah deh. Sudah ketahuan pejabat pemerintah hanya mau kaya sendiri tanpa memikirkan rakyat. Kalau mereka memikirkan rakyat, lebih dulu mereka akan berfikir “celah mana yang bisa dikorupsi”. Gitu khan Bang Sito?.

  13. Master

    Setuju Mas Abdillah, tapi dengan modifikasi. “Seandainya sejak dulu standar kejujuran, kompetisi, keadilan, dll, mulai dari seleksi, penghasilan juga fasilitas, karir (termasuk tingkat menteri harus mengutamakan kemampuan, bukan lama bekerja atau kesetiaan parpol atau lain-lain, sehingga karir berpeluang melesat), pendidikan dan pelatihan, dll, yang adalah minimal berstandar sama dengan pegawai swasta besar atau pegawai BUMN besar, maka pegawai pemerintah tidak miskin (walaupun cukup makan bahkan mampu menyekolahkan anak) dan buruk begini relatif terhadap pegawai swasta besar dan pegawai BUMN besar. Sehingga KKN yang akhirnya menyengsarakan rakyat, akan minimal. Mmm …, sebenarnya lebih rumit dibanding dalam tulisan ini.

  14. Master

    Tentu saja berbagi ini ada tujuan utama untuk saya yang kalau sampai rentang waktu tertentu tidak direspon dengan benar oleh target dimaksud, maka ya selamat tinggal, silahkan tuntut para penjahat tersebut supaya berbagi. Masyarakat tertolong dengan berbagi ini adalah cipratan manfaat alias tujuan samping, yang tentu saja keberlangsungannya ditentukan oleh tujuan utama. Bukankah demikian juga dengan Mas Abdillah?

  15. Ibu Een

    Saya punya ternak kambing di rumah. Apa bisa kotoran kambing untuk pengganti sayur & enceng gondok?

  16. sundoko

    ide sederhana tapi sangat bermanfaat, aku ingin mencoba bersama anak2 , karena produksi sampah organik di SMP 1 Ngoro mojokerto sangat banyak sekali, mungkin bisa buat masak di dapur dan kantin sekolah. Maturnuwun mas.

  17. Master

    Berbagai jenis mineral dari darat terkumpul di laut sehingga laut menjadi gudang lengkap bermacam mineral. Tanaman dan ikan laut menyerap dan menyimpannya dalam organ misalnya hati, ginjal, tiroid, usus, daun, batang, dll. Jangan buang organ ikan laut, tetapi jadikan bahan biogas sehingga selain meningkatkan produksi biogas, mempercepat produksi biogas, dan memperbesar persentase CH4, juga slurry-nya menjadi pupuk cair alami paling lengkap jenis unsur hara terutama unsur mikro. Pupuk cair alami bahkan dibuat dari ekstraksi rumput laut. Selain itu mungkin ada bakteri Methanogen dalam usus ikan laut sehingga memperkaya spesies bakteri Methanogen dalam digester. Mengenai dosis organ ikan laut, silahkan diukur sendiri.

  18. roy

    Tertarik membuat mesin listrik tanpa perlu dicas , saya sedang reset untuk itu , mau coba di pasang di mobil ,terbayang gan kalo mobil bisa jalan tanpa perlu di cas dan tanpa perlu aki banyak.

  19. mas bisakah membuat dengan botol yang lebih kecil, yaitu bekas minuman 1,5 liter

  20. muh yusran

    klo memakai kotoran sapi apa bgt d masukkan kotoran sapinya bio gasnya bisa lgsung d pake ato d simpan dulu?

  21. Master

    Yaaahh, masih belum insyaf mereka. Maka banyaklah akibatnya, misalnya tidak peduli.

  22. shalnab

    Pak, kenapa dengan alat sederhana ini bisa menghasilkan biogas? Maksudnya kan kalo saya lihat kebanyakan, cara membuat biogas ini butuh alat-alat yang rumit

  23. kk lw bhannya diganti dgn kotoran sapi gmna kk

  24. kalau drum yg dipakai bekas minyak atau oli bisa gak mas? apa hrs dr plastik wadahnya? maaf mas..,so’alnya saya orang awam.kl bereksperimen tanpa pengetahuan yg memadai tktnya berbahaya…mtr nuwun..semoga Mas fnu Abdillah selalu dlm lindungan Allah SWT

  25. Assalammualaikum…..salam kenal, mas…..saya senang mencoba-coba sesuatu yang bisa bermanfaat buat sekitar.
    Saya senang sekali dengan tulisan2 anda. Mari terus berkarya…..

  26. makasih mas ini nih yg sy cari murah tapi meriah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s