Monthly Archives: November 2010

Cara Membuat Generator DC (Alternator) 3 Phasa – Bagian 1: Membuat Plat Kumparan


Oleh: Abdillah, FNU.

Untuk membangkitkan listrik tenaga angin atau tenaga air diperlukan dinamo (alternator). Namun sayangnya harga dinamo mahal dan sering kali bentuknya tidak sesuai dengan kondisi lingkungan dimana pembangkit listrik akan dibuat.  Terutama untuk pembangkit listrik menggunakan tenaga angin.

Dari berbagai penelusuran yang penulis lakukan, ada cara mudah membuat alternator. Dimana bahan-bahannya ada di hampir seluruh wilayah di Indonesia, seperti kawat tembaga beremail, magnet, plat besi, resin dan katalis serta kain fiberglass.

Kawat tembaga digunakan untuk membuat gulungan kawat. Sedang mangnet digunakan untuk mempengaruhi gulungan kawat agar menimbulkan arus dan tegangan listrik. Sedang plat besi digunakan sebagai dudukan magnet berputar yang digerakkan oleh turbin angin atau air. Sedang resin dan kain fiberglass digunakan untuk mengecor spul atau gulungan kawat.

Untuk bagian pertama ini, penulis sudah membuat sketsa gambar spul/gulungan kawat/kumparan 3 phasa. Spul tersebut menggunakan kawat beremail 1 mm dengan jumlah gulungan sebanyak 60 – 70 gulung. Banyaknya kumparan untuk eksperimen kita kali ini adalah sebanyak 9 kumparan. Dengan cara penyusunan dan penyambungan tiap kumparan seperti dalam sketsa gambar berikut.

Contoh gambar spul/gulungan yang sedang dicor dengan fiberglass.

Hasil dari pengecoran spul/gulungan/kumparan untuk dinamo/alternator pembakit listrik.

Perlu diketahui bahwa arus yang keluar dari kumparan jika dipengaruhi oleh magnet yang berputar adalah arus AC (Arus Bolak Balik). Untuk dapat mengisi baterai kita  harus merobah arus AC tersebut menjadi arus DC (Arus Searah). Caranya adalah dengan menggunakan jembatan dioda (dioda bridge) atau bagusnya menggunakan Rectifier 35 Amper berpendingin sebanyak 3 buah untuk mengantisipasi beban lebih yang mengakibatkan panas pada rectifier/dioda.

Contoh gambar Dioda Bridge/Rectifier 35 Amper (kiri) dan Pendinginnya (kanan). Diperlukan 3 buah rectifier untuk alternator yang kita buat.

(Bersambung ke Bagian ke 2. Insya Allah)

Iklan

53 Komentar

Filed under Umum

Cara Membuat Solar Sel Menggunakan Tinanium Dioksida


Oleh: Abdillah, FNU.

Mau bereksperimen membuat solar sel sendiri?. Bagi yang minat dapat mencoba cara berikut. Hati-hati menggunakan bahan kimia dan alat listrik. Ketahui dahulu prosedur aman penggunaannya kalau mau mencoba. Utamakan keselamatan dan gunakan alat pengaman yang baik dan benar.

 

I. Bahan-bahan

a. Belilah di Toko kimia:

  • Titanium Dioksida (TiO2) 1/4 ons.
  • Iodine (yodium) 1 botol kecil
  • Sebotol Alkhohol ukuran ½ – 1 liter.

b. Belilah di Toko perlengkapan Kulkas

  • selembar Plat tembaga 1mm selebar ½ – 1 meter.

c. Belilah di Toko besi

  • Kawat kecil secukupnya
  • Selembar kaca transparan 3 mm x 20 x 10 cm.

II. Alat-alat:

  • Gunting plat/kawat
  • Pensil 2 B
  • Oven pemanas sampai 500⁰ Celcius
  • Penjepit kertas 8 buah
  • Solder dan Timah
  • Multitester dengan penjepit buaya
  • Gelas ukuran dan pengaduknya
  • Segelas kecil Teh Kental sekali.

III. Cara Membuatnya

  1. Potonglah plat tembaga 1 mm dengan ukuran 20 Cm x 10 Cm. Lalu cucilah dengan sabun kemudian dilap basah dengan alcohol lalu biarkan menjadi kering.
  2. Hitamkan permukaan plat tembaga dengan pensil 2B secara merata hingga semua satu pemukaannya hitam semua.
  3. Tetesi permukaan tembaga yang hitam tersebut dengan larutan iodine (yodium).  Ratakan larutan hingga permukaan hitam plat tembaga menjadi kecoklatan.
  4. Masukan dalam oven dengan suhu 500⁰C selama 2 – 3 menit, lalu keluarkan dari oven dan biarkan agar menjadi dingin kembali.
  5. Buatlah adonan TiO2 dengan mencampurkannya pada alkhohol dalam gelas ukuran. Aduklah hingga rata betul dan tidak menggumpal.
  6. Oleskan dengan kuas adonan TiO2 ke plat pada permukaan yang terkena yodium. Olesan harus merata. Setelah sekali olesan, biarkan mongering dan kemudian ulangi beberapa kali hingga tebal.
  7. Setelah tebal dan kering, masukkan kedalam oven dengan suhu 500⁰C selama 10 menit.
  8. Keluarkan plat dari oven.
  9. Berilah tetesan teh pada permukaan TiO2 pada plat secara merata dan biarkan beberapa jam agar menyerap dan warnanya menjadi ungu. Lalu laplah dengan cairan yang masih tersisa. Kemudian masukkan kembali dalam oven selama 1 menit.
  10. Potong-potonglah kawat sepanjang 21 Cm. Amplaslah agar bersih lalu cuci dengan alkhohol.
  11. Letakkan kawat pada permukaan TiO2 dengan jarak kira-kira 1 cm tiap kawat. Lalu letakkan di atas kawat itu selembar kaca. Jepitlah kaca di tiap sisinya dengan penjepit kertas.
  12. Solderlah ujung-ujung kawat dengan satu kawat memanjang.
  13. Selesailah solar sel yang kita buat.

Untuk mengujinya, tempelkan kutub positif multitester pada bagian bawah tembaga, dan kutub negatifnya pada kawat. Arahkan solar sel ke matahari dengan sebelumnya posisikan saklar multi testes pada DC Voltage 12 Volt. Perhatikan, setelah terkena mata hari. Umumnya dengan luas area solar sel buatan seperti itu akan diperoleh tegangan berkisar 0,1 – 0,9 Volt dan arus sebesar berkisar 5 milliamper.

5 Komentar

Filed under Energi Surya

Penelitian Pengembangan Model Pembuatan Alat Penyulingan Etanol yang Efektif dan Efisien untuk Alat Bantu Belajar Bagi Masyarakat dalam Pembuatan Bahan Bakar Pengganti Minyak Tanah


Oleh: Abdillah, FNU.

 

Abstrak: Penelitian Pengembangan Model Pembuatan Alat Penyulingan Etanol yang Efektif dan Efisien adalah untuk menciptakan alat penyulingan etanol yang mudah, murah, tepat guna dan berhasil guna. Penelitian bertujuan untuk menciptakan alat bantu belajar bagi masyarakat Indonesia dalam pembuatan bahan bakar pengganti minyak dan gas dengan bahan baku yang mudah didapat, yaitu gula dan pisang yang diharapkan dapat dijadikan sebagai alat ketahanan sosial masyarakat bidang energi terhadap gejolak sosial yang mungkin akan timbul akibat krisis BBM dan Gas yang parah di masa mendatang.

=================================================================================

Keterbatas produksi minyak dan meningkatnya harga bahan akar minyak di pasaran dunia mendorong pemerintah membatasi subsidi bahan bakar terutama minyak tanah. Selain itu pemerintah juga memberlakukan kebijakan konversi minyak tanah ke gas. Akibatnya minyak tanah menjadi langka di masyarakat dan membuat masyarakat seringkali antri dan berebut untuk mendapatkan minyak tanah di agen minyak tanah. Antrian tersebut seringkali menyebabkan terjadinya kericuhan dan membuat keresahan sosial di kalangan masyarakat. Meski pemerintah sudah memberlakukan kebijakan konversi minyak tanah ke gas, namun seringkali keberadaan gas pun mengalami kelangkaan dibeberapa daerah. Ini pun tentu akan membuat kerawanan sosial di kalangan masyarakat.

Bahan bakar minyak adalah bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbaharukan. Hal tersebut tentu menjadikan bahan bakar minyak suatu saat akan mengalami devisit yang pada akhirnya akan habis sama sekali. Memang benar pemerintah dan kalangan ilmuwan terus mengembangkan berbagai energi alternatif. Sayangnya penelitian tersebut sangat jarang melibatkan masyarakat kalangan bawah secara langsung. Dimana masyarakat bawah adalah konsumen terbanyak bahan bakar minyak untuk kebutuhan rumah tangganya. Dalam hal ini bahan bakar minyak tanah. Akibatnya, masyarakat sangat bergantung ada pemerintah untuk pengadaan bahan bakar. Padahal semakin hari seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk, maka semakin tinggi kebutuhan bahan bakar untuk rumah tangga. Sementara upaya pemerintah dan ara ilmuwan belum membuahkan hasil secara signifikan.
Menyikapi hal tersebut, peneliti berupaya menciptakan suatu alat bantu bagi masyarakat untuk mengembangkan sendiri bahan bakar minyak jika suatu saat terjadi kelangkaan bahan bakar yang parah. Upaya ini selain untuk memberdayakan masyarakat dalam hal pengadaan bahan bakar untuk rumah tangga secara mandiri, juga untuk menciptakan alat ketahanan sosial masyarakat bidang energi secara mandiri khususnya diaat krisis energi yang parah yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Penelitian ini oleh peneliti diberi nama “Penelitian Pengembangan Model Pembuatan Alat Penyulingan Etanol yang Efektif dan Efisien untuk Alat Bantu Belajar Bagi Masyarakat dalam Pembuatan Bahan Bakar Penganti Minyak Tanah dan Gas dari Air Gula dan Pisang Secara Mandiri Dalam Rangka Mengantisipasi Gejolak Sosial Masyarakat Bawah Akibat Krisis BMM dan Gas di Masa Mendatang,”. Seperti judulnya, penelitian ini memfokuskan pada penciptaan alat penyulingan yang mudah, murah, berdaya guna dan berhasil guna untuk membuat bahan bakar bio etanol.

Ada dua hal yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini, yaitu: (1) membuat alat penyulingan yang murah dan mudah, (2) bahan baku yang tidak sulit didapat dan sederhana pengolahannya.

Beberapa model alat penyulingan etanol, yakni: model “pot”, model “kolom”, dan model “kolom dengan reflux”.

Penyulingan model pot adalah alat penyulingan yang memiliki pengalir keluaran uap secara langsung di atas panci pemanasnya dan langsung masuk pada penukar dingin (kondenser).

Penyulingan model kolom adalah alat penyulingan yang memerlukan “menara” berbentuk silinder setelah keluar uap dari panci pemanas sebelum masuk pada kondenser. Menara ini tingginya beragam, namun rata-rata setinggi 3 – 4 meter dengan diameter umumnya 4 inchi atau lebih. Guna kolom adalah menahan uap air yang terbawa bersama uap etanol.

Penyuling model kolom dengan reflux adalah alat penyulingan yang tersedia ruang atau alat untuk mengembalikan uap air yang mencair setelah keluar dari kolom ke panci pemanas sebelum masuk ke kondenser. Sementara uap etanol diteruskan ke kondenser.

Sementara untuk bahan baku pembuatan bio etanol peneliti menetapkan gula dan pisang sebagai bahan baku utama. Dipilihnya gula dan pisang karena kedua bahan baku tersebut mudah dipasaran dan harganya relatif murah. Terutama untuk yang berkualitas rendah. Gula misalnya, dapat menggunakan gula karungan berkualitas rendah yang dijual di warung-warung. Sementara pisang dapat menggunakan pisang-pisang yang hampir busuk (kulitnya menghitam) yang dapat dibeli di tukang pisang di pasar-pasar tradisional. Pisang-pisang tersebut biasanya dibuang begitu saja ke tempat sampah oleh penjualnya karena tidak laku dijual.

Selain itu, air gula dan pisang, hanya memerlukan bahan fermentasi satu jenis saja, yaitu Saccharomycess Cerevisiae (Ragi Tape) yang mudah didapatkan di pasar-pasar tradisional dan tidak memerlukan bahan fermentasi lainnya seperti enzim alfaamylase dan glucoamylase untuk singkong yang sangat sulit didapatkan.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan model pembuatan alat penyulingan etanol yang efektif dan efisien untuk alat bantu belajar bagi masyarakat dalam pembuatan bahan bakar bio etanol.

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan April 2009 di “Laboratorium” Gema IPTEK Mandiri Yayasan Gema Mandiri Bangsa Manggarai Jakarta.

Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan Trial and Error dengan merujuk model-model alat penyulingan yang sudah dikenal selama ini dengan merekayasa bentuk alat penyulingan etanol agar efektif dan efisien. Mengingat model alat penyulingan yang ada selama ini begitu mahal dan tidak mudah pengoperasiannya bagi masyarakat biasa/awam.

Pelaksanaan penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu: (1) Tahap pembuatan alat penyulingan; (2) Tahap pengolahan bahan baku dengan fermentasi sederhana; (3) Pengujian alat penyulingan berorientasi hasil yaitu etanol minimal berkadar sekitar 70% (atau setidaknya dapat menyala ketika disulut api).

Pada tahap satu yaitu tahap pembuatan alat penyulingan, peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut:

1) Pembuatan alat penyulingan dengan model-model yakni model pot, kolom, dan reflux yang sudah ada, guna mencari kelemahan dari ketiga model tersebut;
2) Merekayasa ketiga bentuk model yang sudah ada untuk mengembangkan model baru yang efektif dan efisien. Dikatakan efektif bila: mudah pengerasiannya, mengahasilkan bio etanol yang dapat langsung dapat menyala ketika disulut api. Dikatakan efisien bila pembuatannya mudah dan murah.

Pada tahap dua yaitu tahap pengolahan bahan baku bio etanol melalui fermentasi sederhana, peneliti melakukan:

1) Mempelajari ketersediaan bahan baku yang mudah didapat dikalangan masyarakat.
2) Melakukan pengujian bahan baku bio etanol dengan perbedaan masa fermentasi, yaitu 3 -10 hari, 11 – 30 hari.

Pada tahap tiga yaitu pengujian alat penyulingan hasil pengembangan yang berorientasi hasil yaitu bio etanol minimal berkadar sekitar 70% (atau setidaknya dapat menyala ketika disulut api). Dalam hal ini peneliti melakukan:

1) Penetapkan beberapa bentuk model alat penyulingan hasil pengembangan yang akan di uji.
2) Melakukan pengujian alat penyulingan dengan menggunakan bahan baku hasil fermentasi dengan keseluruhan waktu fermentasi.

HASIL

Dari berbagai uji coba dengan pendekatan Trial and Error dari model pot, kolom, dan reflux. Diperoleh hasil model baru yaitu gambungan dari ketiga model yang sudah ada, yaitu model pot dengan kolom diatasnya sehingga uap yang mencair sebelum kondenser dapat langsung masuk ke panci pemanas secara langsung dan etanl dapat segera dihasilkan dengan satu kali penyulingan.

Hal tersebut dapat terjadi karena panci yang berdiameter 38 Cm dengan tinggi 40 Cm yang diatasnya terdapat kolom yang dibuat setinggi 2,5 meter dari pipa bekas tersebut, dimana kolomnya terdiri dari 1,5 meter berdiameter 4 inchi dan diisi dengan batu koral untuk taman. Sedang satu meter diatasnya berdiameter 3 inchi dengan output uap yang langsung masuk ke kondenser. Antara pipa besi 4 inchi dan 3 inchi tersebut, disambung dengan penghubung 4 inchi ke 3 inchi.

Dari hasil pengujian alat penyulingan dengan bahan baku dengan perbedaan masa fermentasi, diperoleh hasil bio etanol dengan perbedaan kuantitas. Yaitu:

1) Dari 6 Kg dengan campuran air sebanyak 10 liter, diperoleh bio etanol 2,8 liter untuk masa fermentasi 11 – 20 hari dan 2,4 litter untuk masa fermentasi 3 – 10 hari dalam waktu 1 jam;
2) Dari 10 Kg pisang diperoleh bio etanol 0,8 liter bio etanol untuk masa fermentasi 11 – 30 hari, dan 0,5 litter bio etanol untuk masa fermentasi 3 – 10 hari dalam waktu 1 jam.

Secara keseluruhan hanya diperlukan satu kali penyulingan dan bio etanolnya dapat menyala ketika disulut api.

Contoh sketsa bentuk alat hasil penelitian Abdillah.

KESIMPULAN

Model alat penyulingan baru yang dikembangkan peneliti ternyata cukup efektif menghasilkan bio etanol dengan cukup satu kali penyulingan tanpa menjaga suhu dalam panci pemanas. Artinya dalam panci pemanas suhu boleh suhu 100º C (padahal titik didih etanol berkisar 78 º C) dimana etanol dan air akan menguap secara bersama. Kemudian uap air akan didingingkan oleh batuan koral taman yang terdapat pada kolom tersebut akan masuk kedalam panci pemanas, sementara uap etanol akan diteruskan ke kondenser lalu dicairkan yang kemudian ditampung dalam botol bio etanol. Hal ini tentu sangat membantu masyarakat awam dalam kemudahan pengoperasiannya.

Model tersebut juga sangat efisien dimana kapasitasnnya 50 liter tersebut dibuat dengan biaya kurang dari Rp. 750.000,- dan 100 liter dengan biaya kurang dari Rp. 1.000.000,- . Ini sangat murah jika dibandingkan dengan harga alat penyulingan yang dijual melalui internet.

Untuk situasi dalam keadaan tidak mendesak, alat dapat digunakan untuk penyulingan bio etanol dari berbagai bahan baku, seperti: singkong, sagu, tetes tebu, aren, dan lain sebagainya.

SARAN

Penelitian ini semata hanya berorientasi hasil yang langsung dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu alat yang mudah dan murah untuk menghasilkan bio etanol khususnya pada masa krisis bbm yang parah yang mungkin terjadi di masa mendatang. Untuk kajian lebih mendalam, harusnya dilakukan oleh peneliti dalam ranah disiplin ilmu yang bersangkutan dengan prinsip menyederhanakan sesuatu yang rumit dan ilmiyah menjadi praktis dan mudah dimengerti masyarakat biasa/awam Sehingga masyarakat dengan mudah pula mengiplementasikan dalam kehidupan sehari-harinya..

Untuk lebih memasyarakatkan penggunaan bio etanol pada khalayak ramai, hendaknya alat yang dikembangkan peneliti dapat diterapkan bagi PKBM-PKBM bahkan sekolah-sekolah formal diseluruh Indonesia. Sehingga ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar fosil dapat dikurangi dan keresahan sosial yang mungkin timbul dari kelangkaan bahan bakar yang mungkin parah di masa mendatang dapat diantisiasi dan dieliminasi. Untuk itu perlu dilakukan uji efektifitas alat penyulingan yang peneliti kembangkan, karena pengujian efektifitas di tingkat masyarakat belum sempat peneliti lakukan karena keterbatasan anggaran. Sedang pada tingkat laboratorium, peneliti menganggap alat yang dikembangkan sudah cukup efektif dan efisien untuk digunakan sebagai alat bantu belajar bagi masyarakat untuk pembuatan bio etanol.

DAFTAR PUSTAKA

Chemiawan Tata, 2007. Membangun Industri Bioetanol Nasional
Sebagai Pasokan Energi Berkelanjutan Dalam Menghadapi Krisis Energi Global.
Tata Chemiawan’s weblog.
Dwi, 2007. Bioetanol, energi alternatif yang kompetitif. www. Dwi blogspot.com
Khairini, R., 2007. Limbah Tanaman Jagung Alternatif Pembuatan
Biofuel/Bio-ethanol. www.Google.com
Nurdyastuti, I. 2007. Teknologi Proses Produksi Bio
Ethanol.www. Google.com

Keterangan: Penelitian di atas adalah penelitian yang saya lakukan beberapa tahun lalu dan telah diposting di website Jurnal Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendiknas RI. dengan link http://dikti.org/?q=node/635

28 Komentar

Filed under Energi Bio Fuel

Penyaring Air Keramik Tradisional


Oleh: Abdillah, FNU.

Anda memiliki air bersih tapi keruh?. Ada cara yang mudah dah murah untuk mengatasinya. Yaitu dengan menggunakan keramik tradisional yang banyak di Indonesia.

Tinggal meletakkan wadah keramik di atas wadah plastik yang ada kerannya, niscaya air dirumah Anda sudah cukup bersih untuk digunakan. Bening dan tidak keruh lagi.

Cara seperti ini banyak digunakan di India dan Pakistan juga Banglades. Menurut kabar airnya sudah layak minum. Tapi sebaiknya dimasak terlebih dahulu meski sudah disaring menggunakan alat seperti gambar di bawah ini.

Cara kerja alat ini yaitu: letakkan wadah keramik di atas wadah plastik berkeran. Kemudian masukkan air keruh secukupnya ke wadah keramik. Rembesan air akan masuk ke wadah plastik dan sudah bersih, bening, dan tidak keruh lagi.

Untuk keberlangsungnya, bersihkan residu yang tersisa dari air sebelumnya secara berkala 2 x seminggu agar pori-pori keramik tidak tertutup kotoran air keruh.

Selain itu, agar tidak kemasukan kotoran lain atau binatang, sebaiknya menggunakan tutup diatas keramiknya.

Tinggalkan komentar

Filed under Umum

Penyulingan Air Bersih Tenaga Matahari


Oleh: Abdillah, FNU.

Banyak wilayah di Indonesia yang sulit mendapatkan air bersih. Tapi untuk mendapatkan air tercemar sangat mudah. Kita tentu tidak dapat menkonsumsi air tercemar kalau kita dan keluarga kita ingin sehat. Tapi sayangnya alat pembersih air harganya sangat mahal. Juga biaya pengoperasiannya baik yang menggunakan listrik atau bahan bakar minyak.

Penulis mencoba mencari jalan keluar akan permasalahan itu. Hasilnya penulis berhasil membuat alat penyulingan yang murah dan ramah lingkungan. Yaitu dengan menggunakan energi panas matahari untuk penguapan air. Lihat sket gambar dibawah ini.

Cara kerja dari alat tersebut adalah:

Air yang ada dalam bak penampung yang terbuat dari logam bagian dalamnya akan menguap jika dipanaskan oleh sinar matahari. Air uap akan menempel pada kaca. Lalu secara perlahan akan mengalir mengikuti kemiringan kaca dan akirnya akan jatuh pada ruas penampung disebelah kanan, lalu airnya akan jatuh ke bak/ember penampung.

Barangkali untuk mendapatkan hasil yang baik perlu dilakukan beberapa kali penyulingan. Terutama untuk air yang sangat keruh atau air laut.

Agar airnya dapat diminum atau dipergunakan untuk masak, air haruslah dimasak dahulu untuk mematikan bakteri yang mungkin masih ada/terbawa karena letak air tercemar dalam bak dekat sekali dengan ruas penampungnya.

Silahkah dikembangkan untuk hasil yang lebik baik bagi pada peneliti muda yang produktif. Semoga hasilnya dapat disebar luaskan untuk menolong saudara-saudara kita yang kesulitan air bersih.

Catatan: Untuk plat bagian dalam bak sebaiknya menggunakan plat logam tahan karat seperti alumunium, stainless steel, dll. Jika tidak ada atau mahal, dapat menggunakan seng atau plat besi. Hanya saja harus diterus dibersihkan dan diganti bila terdapat karat.

1 Komentar

Filed under Umum

Membuat Pembangkit Listrik Mikro Hidro Air Datar Lemah


Oleh: Abdillah, FNU.

Banyak teman-teman di desa yang ingin membuat pembangkit listrik sederhana mikro hydro. Tetapi tidak ada “air terjun” atau aliran sungai ada tapi tidak terlalu kuat. Bagaimana solusinya?.

Untuk mengatasi persoalan itu, kita harus memompa air ketempat yang lebih tinggi. Kemudian air itu dialirkan ke turbin.

Untuk mewujudkan itu, kita sedikitnya membutuhkan 3 buah kincir. 1) Kincir pertama diletakkan di sungai yang mengalir untuk memberi daya engkol pada kincir ke 2, 2) Kincir yang diletakkan diatas untuk memutar engkol pompa, 3) Kincir untuk menggerakkan turbin.

Untuk pompanya kita bisa buat dari pipa besi atau paralon. Hanya saja perlu membuat sumuran disisi sungai jika kita tidak memungkinkan memasang tiang pompa/kincir atas.  Dalamnya sumuran harus melampai tingginya permukaan air.

Selanjutnya, air yang dipompa akan ditampung di bak atas yang melalui pipa disalurkan ke kincir penggerak turbin. Untuk menempatkan bak air di atas, tentunya kita membutuhkan “tower”.

Jika debit air yang dipompa oleh kincir yang berada di sungai dan diatas tower tidak cukup untuk menggerakkan kincir turbin, jumlah kincir disungai dan di tower dapat ditambah lebih dari satu). Lalu dengan pipa dibuat masuk ke bak penampung di tower. Hingga volume air di bak penampung di tower dapat mencukupi kekuatannya menggerakkan kincir untuk memutar turbin.

Demikian. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar

Filed under Energi Mikro Hydro

Penyusunan Panel Sel Surya


Oleh: Abdillah, FNU.

Sebuah rumah di Los Angeles California USA dalam sehari membutuhkan listrik berkisar 9,6 KwH. Berdasarkan perhitungan hukum ohm dimana (Power = Tegangan x Arus) atau (Watt = V x I). Bila ingin mengetahui jumlah tegangan dapat merubah rumus menjadi  Tegangan = Power / Arus atau (Volt = P/I).

Dari kebutuhan tersebut, dapat dihitung seberapa banyak battere dan jumlah solar panel yang dibutuhkan.

Dipasaran terdapat beraneka panel surya siap pakai. Penulis kemudian memilih panel surya yang daya output rata-ratanya 29 Volt 8 Amper. Sementara Batere yang ada dipasaran juga bermacam-macam. Maka penulis memilih batere dengan voltage 24 Volt 80 Amper.

Masalahnya, berapa panel surya dan batere yang dibutuhkan?.

Untuk menjawab itu, maka dapat dilakukan sebagai berikut:

–          Power = 9600 watt (9,6 Kw)

–          Bila dibagi 8 Amper sesuai Amper pada solar panel dengan mendapat sinar matahari 5 jam perhari,, maka akan didapat: 9600 Watt / (8 Amper x 5 Jam)=  240 Volt. Ini masih terlalu besar mengingat di amerika menggunakan listrik 120 Volt.

–          Maka arus solar panel yang 8 amper harus dibuat dua kali lipatnya, yaitu menjadi 16 Amper dengan cara dua panel dihubungkan paralel. Maka diperoleh jumlah sebagai berikut: 9600 / (16 x 5) = 120 Volt. Dengan demikian kebutuhan voltage 120 Volt sudah didapat. Hanya saja voltage tersebut masih dengan arus searah (DC).

–          Kita ketahui batere yang digunakan adalah batere 24 Volt 80 Ah. Maka jika arusnya 80 Ah tersebut dibagi 16 Amper, maka diperoleh angka 5. Hal ini sesuai dengan intensitas matahari rata-rata perhari yaitu sekitar 5 jam. Dengan arus sebesar 16 Amper itu, maka batere dapat dipenuhi arus menjacapai 80Ah selama 5 jam.

–          Masalahnya, batere bertegangan 24 volt. Bagaimana supaya batere dapat menampung tegangan listrik 120 volt?. Caranya adalah dengan menyusun batere secara seri. Kita ketahui jika batere disusun secara seri maka tegangan akan meningkat dan arusnya tetap. Sedang jika dihubukan secara parallel, tegangannya akan tetap dan arusnya meningkat. Artinya, batere yang ada yaitu 24 Volt 80Ah dapat kita buat menjadi 120 volt dengan cara menghubungkannya secara seri. Caranya membagi Tegangan 120 Volt dengan 24 Volt. Hasilnya 5. Dengan demikian kita dapat menghubungkan sebanyak 5 buah batere.

–          Persoalan baru timbul, yaitu berapa total panel surya yang dibutuhkan? Sedang voltase panel surya hanya sebesar 29 Volt?. Padahal batere 120 Volt?. Maka 120 / 29 = 4,1 atau = 4. Artinya kita dapat menghubungkan secara seri 4 buah panel surya. Tapi jangan lupa, sebelumnya kita sudah memparalel jumlah panel surya untuk mendapatkan amper yang dibutuhkan. Maka dengan demikian kita menggunakan 2 x 4 panel surya = 8 panel surya.

Untuk hasilnya dapat dilihat contoh desain dalam gambar berikut.


Klik pada gambar untuk memperbesar.

Tinggalkan komentar

Filed under Umum